Mengapung! Kota Ini Sepenuhnya dari Besi

Kota apung terbesar dan tertua dari besi yang ada di dunia

Mengapung! Kota Ini Sepenuhnya dari Besi geozet.ru

Neft Dashlari, mungkin banyak dari kita yang belum pernah mendengar nama ini. Neft Dashlari yang dapat diterjemahkan sebagai “Oil Rocks” ini memang kini sudah tidak sejaya dulu sehingga kabarnya sudah jarang terdengar. Meskipun demikian, kota unik yang masuk di wilayah negara Azerbaijan ini masih merupakan kota apung terbesar dan tertua dari besi yang terletak di tengah laut.

Kota di tengah Caspian Sea ini dibangun usai Perang Dunia ke-2 oleh Uni Soviet, dimulai sekitar tahun 1949. Berawal dari ambisi Uni Soviet untuk mengekplorasi kekayaan minyak bawah laut di daerah ini, Neft Dashlari dibangun di atas pilar-pilar besi yang beralaskan 7 kapal yang sudah tenggelam, salah satunya adalah “Zoraster”, yang merupakan tanker minyak pertama di dunia. Antara tahun 1952 hingga 1958, kota ini berkembang dengan amat pesat hingga membentuk 2000 drilling platforms yang terbuat dari besi yang selanjutnya dihubungkan oleh jembatan besi dengan panjang total 300 km.

Pangkalan minyak raksasa di tengah laut ini segera berubah menjadi sebuah kota lengkap dengan fasilitas-fasilitas layaknya kota di daratan. Ada bioskop, apartemen tingkat 8, lapangan bola, perpustakaan, laundry, bakery, beverage factory, kebun sayur dan masih banyak lagi. Bahkan, saking niatnya, mereka membawa tanah dari daratan terdekat ke Neft Dashlari untuk membangun sebuah taman lengkap dengan pepohonan yang rindang. Masyarakat yang tinggal di sini pun rajin menanam sayuran dan buah-buahan di kebun kecil masing-masing. Mengingat kota ini terletak 55 km dari daratan terdekat, fasilitas yang terdapat di Neft Dashlari ini mencengangkan juga ya!

Di masa keemasannya, Neft Dashlari memiliki total populasi sekitar 5000 orang. Sayangnya, kini hanya seperlima dari populasi awal yang masih tinggal di kota ini. Kejayaan Neft Dashlari mulai meredup setelah runtuhnya Uni Soviet dan ditemukannya sumber-sumber minyak di tempat lain yang lebih menguntungkan. Kini, hanya sekitar 45 km dari 300 km jembatan yang masih bisa digunakan, sisanya habis tertelan lautan atau rusak dimakan usia. Sedih ya.

Yena Y. Photo

-

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Read More

Bagaimana perasaanmu setelah membaca artikel ini?

  • Vote Senang Vote
    Senang 50%
  • Vote Sedih Vote
    Sedih 0%
  • Vote Terhibur Vote
    Terhibur 17%
  • Vote Marah Vote
    Marah 0%
  • Vote Kaget Vote
    Kaget 17%
  • Vote Terinspirasi Vote
    Terinspirasi 17%
ARTIKEL TERKINI